Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) dengan tema geopolitik global dan arah kebijakan nasional di tengah dinamika dunia yang kian kompleks.
Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily mengatakan, kuliah umum tersebut merupakan bagian penting dari kurikulum pendidikan kader pimpinan nasional. Pemberian materi kuliah umum pun, kata dia, digelar secara tertutup.
“Kegiatan ini bagian dari proses pendidikan di Lemhannas dengan menghadirkan narasumber strategis. Pak Presiden SBY menyampaikan tema geopolitik global dan bagaimana arah kebijakan yang harus dilakukan oleh calon pemimpin dan pimpinan nasional,” ujar Ace, di Ruang Dwi Warna Purwa, Gedung Pancagatra, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Kuliah umum itu diikuti peserta Program Pendidikan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan ke-27 dan Program Pendidikan Penyiapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan ke-69. Total peserta, mencapai 175 orang dari berbagai unsur.
Menurut Ace, SBY menekankan tiga poin penting. Pertama, isu geopolitik global yang menurutnya wajib dipahami para pemimpin karena memiliki dampak langsung terhadap kondisi nasional.
“Geopolitik global itu sangat mempengaruhi situasi dalam negeri. Karena itu para calon pimpinan nasional harus memiliki perspektif global,” tegasnya.
Kedua, SBY mengingatkan pentingnya peran aktif Indonesia dalam diplomasi internasional sesuai amanat politik luar negeri bebas aktif. Ia juga mengapresiasi Presiden Prabowo Subianto yang memegang prinsip “satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit”.
“Itu menjadi dasar diplomasi Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia,” kata Ace.
Ketiga, penguatan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sebagai kekuatan multilateral kawasan. Menurutnya, ASEAN harus terus diperkuat sebagai jangkar stabilitas geopolitik regional.
Ace mengungkapkan, dalam kuliah umumnya, SBY juga menyinggung potensi konflik global yang bisa memicu perang dunia ketiga. Sejumlah kawasan disebut memiliki eskalasi tinggi, mulai dari Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea, konflik Cina-Taiwan, perang Rusia-Ukraina, hingga ketegangan di Timur Tengah
“Berbagai konflik di tiga kawasan besar dunia itu berpotensi melahirkan eskalasi global jika tidak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Karena itu, Ace menekankan pentingnya kewaspadaan nasional. Indonesia, kata dia, harus memperkuat kemandirian ekonomi, pangan, energi, peningkatan kualitas SDM, serta daya tangkal pertahanan.
“Kita harus menjaga survival bangsa dengan membangun kemandirian dan daya tangkal yang kuat di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” pungkasnya.
Sementara itu, di sesi tanya jawab yang memperkenankan awak media masuk arena, SBY sempat menyinggung posisi Amerika Serikat (AS) yang ingin kembali menjadi kekuatan unipolar atau satu-satunya penguasa dunia.
“Amerika ingin kembali unipolar Amerika alone sebagai global leader, global corp, sebagai lone ranger,” kata SBY.
Kepada para peserta, SBY mengawali penjelasannya dengan menggambarkan situasi global pada era Perang Dingin. Saat itu, dunia berada dalam tatanan bipolar yang terbagi antara dua blok besar.
Namun, setelah Perang Dingin berakhir, AS cenderung ingin menjadi lone ranger atau kekuatan tunggal yang bergerak sendiri dalam mencapai tujuan-tujuan globalnya. Namun, SBY menilai, konfigurasi global terus berubah seiring perkembangan zaman.
“Artinya apa? Sudah terjadi dan sekarang ini mestinya kembali ke multipolar, paling tidak Amerika, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, beberapa negara BRICS. Sadarilah kita hidup dalam tatanan multipolar,” tutur Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.
SBY menekankan pentingnya Indonesia untuk cermat memosisikan diri dalam percaturan global. Pesannya, Indonesia harus mampu menavigasi arah kebijakan luar negeri di tengah polarisasi kekuatan dunia saat ini.
Sumber: Rm.id















