Setiap pergantian kepemimpinan, selalu ada dua pertanyaan mendasar yaitu apa yang diwariskan, dan bagaimana warisan itu akan diolah. Musda XI Partai Golkar Jawa Barat yang berlangsung di The Trans Luxury Hotel Kota Bandung, 1-3 April 2026 tidak hanya menjawab pertanyaan kedua dengan menetapkan Daniel Mutaqien Syaifuddin sebagai pemimpin baru, tetapi juga menghadirkan refleksi penting atas warisan kepemimpinan TB Ace Hasan Syadzily, sebuah warisan yang tidak ringan, karena dibangun melalui kerja organisasi yang relatif terukur dan berprestasi.
Kepemimpinan Ace Hasan, dalam perspektif ilmu politik, dapat dibaca melalui kerangka transformational leadership sebagaimana dirumuskan oleh James MacGregor Burns (1978) dan dikembangkan oleh Bernard Bass (1985). Pendekatan ini menyebutkan, seorang pemimpin tidak sekadar mengelola organisasi, tetapi mentransformasikan nilai, motivasi, dan orientasi kolektif pengikutnya. Ace, dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan kecenderungan tersebut: ia tidak hanya menggerakkan kader, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap organisasi. Indikatornya dapat dilihat dari capaian elektoral dan konsolidasi internal. Golkar Jawa Barat di bawah kepemimpinan Ace dicatat mengalami penguatan struktur organisasi hingga tingkat paling bawah, peningkatan koordinasi lintas kader dengan performa elektoral yang relatif stabil bahkan meningkat di sejumlah wilayah strategis. Dalam konteks partai politik Indonesia yang cenderung fluktuatif, stabilitas semacam ini tentu bukan sebuah capaian kecil.
Lebih dari itu, Ace juga menunjukkan karakter kepemimpinan yang oleh Max Weber disebut sebagai legal-rational authority. Ia menempatkan sistem di atas personalitas, memastikan bahwa keputusan organisasi berjalan melalui mekanisme formal, bukan sekadar kehendak individu. Pernyataannya dalam Musda misalnya tentang pentingnya melanjutkan sistem yang telah dibangun bersama, mengindikasikan kesadaran akan pentingnya institusionalisasi, sesuatu yang sering kali menjadi titik lemah partai politik di negara berkembang.
Namun, keteladanan kepemimpinan Ace tidak hanya terletak pada aspek struktural. Ia juga tampak menjaga etika politik yang relatif moderat, tidak terlalu populistik, tetapi juga tidak elitis. Dalam sejumlah pemberitaan dan pidato publiknya, Ace konsisten menekankan pentingnya kerja kolektif, bukan kultus individu. Dalam teori kepemimpinan modern, ini mendekati konsep servant leadership (Greenleaf, 1977), di mana pemimpin berfungsi sebagai pelayan organisasi, bukan sebaliknya. Keteladanan semacam ini memiliki implikasi jangka panjang. Dalam studi tentang partai politik di Asia Tenggara (Mietzner, 2013), disebutkan bahwa keberlanjutan partai sangat ditentukan oleh kualitas kaderisasi dan budaya organisasi yang ditanamkan oleh pemimpin sebelumnya. Ace, dalam hal ini, tidak hanya meninggalkan struktur, tetapi juga kultur, yakni sebuah model cara bekerja, cara berkomunikasi, dan cara memandang kekuasaan.
Di titik inilah estafet kepada Daniel Muttaqien memperoleh konteks yang lebih membumi. Ia tidak memulai dari nol. Ia mewarisi organisasi yang telah relatif terkonsolidasi, dengan standar kepemimpinan yang telah dibentuk oleh pendahulunya. Namun, sebagaimana diingatkan dalam teori political succession (Huntington, 1968), keberhasilan estafet tidak hanya ditentukan oleh kekuatan warisan, tetapi juga kemampuan penerus dalam mengartikulasikan visi baru. Daniel berada pada persimpangan itu. Ia dikenal sebagai bagian dari lingkar dalam kepemimpinan sebelumnya, memahami ritme organisasi, sekaligus memiliki ruang untuk membangun gaya kepemimpinannya sendiri. Pierre Bourdieu, menyebutnya, sebagai habitus yang terbentuk dari pengalaman organisasi sebelumnya, tetapi tetap mengakumulasi kapital mandiri, baik simbolik maupun politik, guna memperkuat legitimasi kepemimpinannya.
Sehingga tantangan yang dihadapi pun tidak sederhana. Politik Jawa Barat hari ini berada dalam fase yang semakin kompetitif. Fragmentasi pilihan politik, meningkatnya peran media sosial, serta tumbuhnya kesadaran kritis publik membuat partai tidak bisa lagi hanya mengandalkan mesin struktural. Dalam konteks ini, keberhasilan Ace menjadi fondasi, tetapi bukan jaminan otomatis bagi masa depan. Karena itu, target yang disampaikan, seperti penambahan kursi legislatif, perlu dibaca dalam kerangka yang lebih luas. Ia bukan sekadar angka, melainkan indikator apakah Golkar mampu tetap relevan di tengah perubahan zaman. Hal ini selaras dengan literatur tentang demokrasi elektoral (Levitsky & Way, 2010), partai yang bertahan adalah yang mampu menyeimbangkan antara organisasi yang kuat dan sensitivitas terhadap aspirasi publik.
Di sinilah keteladanan Ace menemukan maknanya yang paling strategis. Ia menunjukkan bahwa kemenangan politik tidak harus dibangun melalui retorika yang berisik, tetapi melalui kerja organisasi yang konsisten dan terukur. Ia juga memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak harus selalu tampil dominan, tetapi cukup hadir sebagai pengarah yang memberi ruang bagi kader untuk tumbuh. Estafet kepada Daniel, dengan demikian, bukan sekadar pergantian figur, tetapi ujian terhadap keberlanjutan nilai. Apakah kultur yang telah dibangun dapat bertahan? Apakah sistem yang telah dirancang dapat terus bekerja? Dan yang tak kalah penting: apakah kepemimpinan baru mampu menghadirkan inovasi tanpa merusak fondasi yang ada? Sejarah politik sering kali mencatat bahwa banyak organisasi runtuh bukan karena tidak memiliki pemimpin hebat, tetapi karena gagal mengelola transisi. Golkar Jawa Barat, setidaknya dalam momen ini, menunjukkan upaya menghindari jebakan tersebut.
Pada akhirnya, kepemimpinan adalah tentang jejak. Ace Hasan telah meninggalkan jejak yang relatif jelas. Yakni konsolidasi, stabilitas, dan capaian. Kang Daniel Muttaqien kini memikul tugas yang tidak kalah penting, memastikan bahwa jejak itu tidak berhenti sebagai catatan, tetapi berlanjut menjadi gerak. Dan di situlah politik menemukan maknanya. Bukan pada siapa yang memimpin hari ini, tetapi pada bagaimana kepemimpinan itu diwariskan untuk hari esok.***
Sumber: https://koran.pikiran-rakyat.com/


















