Diundang Partai Komunis China, Pengurus Golkar Berdialog dengan Warga Nanjing

Jakarta – Pengurus Partai Golkar berkunjung ke sejumlah kota di China dan bertemu dengan warga hingga pengurus partai. Mereka hadir atas undangan dari International Department Communist Party of China (IDCPC) atau Partai Komunis China (PKC) selama 22 Agustus-31 Agustus 2016. Kota pertama yang dikunjungi adalah Nanjing di Propinsi Jiangsu.

Di Nanjing, mereka berdialog dengan warga soal komunitas di tingkat akar rumput (grass roots) yang dikelola oleh partai.
Delegasi pengurus Golkar terdiri dari Wasekjen Golkar Ace Hasan Syadzily, Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri Golkar Emmalia Natar, Wasekjen Golkar Melki Laka Lena, Wabendum Golkar Selina Gita, Wabendum Golkar Sari Yulianti, Wabendum Golkar Ernawati Tahang, Ketua Departemen Otonomi Khusus Golkar Fauziah Pujiwatie, Anggota Departemen Pembangunan Daerah dan Pedesaan Marleen Jeanne Petta, serta Ketua Departemen Organisasi Golkar Rofiqul Umam.

Ada pula Sekjen Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Nursyam Halid, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri AMPG Syafaat Perdana, serta Wabendum AMPG Siti Harumi Prima Sari. Di Nanjing, pengurus Golkar diajak mengunjungi kompleks apartemen di kawasan Jianye. Ada 4.200 keluarga atau sekitar 22.000 orang di 4 blok kompleks apartemen ini.

Pengurus Partai Komunis China (PKC) di Yue An, Liu Xiangyang menjelaskan bahwa gedung apartemen ini milik pemerintah, tapi fasilitas untuk warga dikelola oleh anggota PKC. Fasilitas yang disediakan mulai dari kegiatan untuk lansia, keluarga berencana, perpustakaan, fasilitas olahraga, hingga daycare.

“Penduduk di sini kebanyakan pengusaha, lapisan sosial menengah ke atas. Jadi pelayanan yang diberikan ke mereka baik dari pemerintah dan partai harus sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Liu.

Pengurus Golkar bertanya apakah semua warga yang tinggal di komplek apartemen Yue An harus menjadi anggota PKC. Liu mengatakan bahwa hal itu tidak wajib.

“14 persen penduduk di sini anggota partai,” jelasnya.

Para anggota PKC tersebut yang mengelola dan memfasilitasi warga untuk beraktifitas. Seperti yang dilakukan oleh Bapak Xu dan Ibu Luan yang merupakan lansia. Keduanya mengorganisir latihan musik untuk warga lansia lain di Yue An.

Saat dikunjungi oleh para pengurus Golkar, Xu dan Luan serta 4 orang lansia lainnya sedang berlatih alat musik tradisional China bernama hulusi. Permainan apik mereka pun berujung pada tepuk tangan pengurus partai berlambang beringin ini.

“Semua biaya di sini ditanggung pemerintah. Anggota partai jadi pengurus grup karena harus dominan,” kata Xu yang sudah pensiun ini.

“Karena saya merupakan anggota partai, saya secara sukarela organisasikan grup ini agar bisa berwarna warni,” ucap Luan menambahkan.

Fasilitas lain yang diorganisir oleh anggota PKC antara lain perpustakaan, meja pingpong, latihan melukis, hingga pojok ‘curhat’. Ada pula satu dinding yang dipenuhi oleh foto anggota PKC yang tinggal di kompleks Yue An.

“Foto anggota partai dipasang sehingga warga tahu dan mereka harus beri pelayanan dengan baik,” papar Liu.

Pengurus PKC di Yue An kemudian melayani tanya jawab dari pengurus Golkar yang penasaran. Mulai dari honor untuk
anggota partai hingga siapa saja yang terlibat dalam pengelolaan fasilitas di Yue An.
“Apakah ada iuran yang harus dibayar oleh setiap anggota partai?” tanya Wasekjen Golkar Melki Laka Lena.

Liu memaparkan bahwa iuran anggota ke partai dibedakan jumlahnya tergantung gaji masing-masing orang. Orang yang pensiun tentu membayar lebih sedikit. Sebagai gambaran, seseorang yang memiliki penghasilan 5.000 yuan, akan membayar iuran 0,5 persen dari gajinya.

“Berapa banyak anak muda di sini? Apakah mereka juga aktif?” tanya Sekjen Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Nursyam Halid.

Liu menjelaskan bahwa dari 22.000 orang, hanya sepertiga di antaranya yang merupakan anak muda. Mereka ikut serta pula mengorganisir kegiatan di Yue An, namun para lansia lebih aktif.

Kunjungan pengurus Golkar ke komunitas akar rumput yang dibina PKC di Nanjing ini adalah untuk melihat bagaimana peran partai untuk kesejahteraan rakyat. Wasekjen Golkar Ace Hasan mengatakan bahwa Indonesia dan Tiongkok memang memiliki sistem politik yang berbeda, tapi itu tidak menutup pintu pertukaran pengalaman.

“Kita ingin melihat bagaimana kesejahteraan bisa meyakinkan rakyat bahwa partai ini yang harus dipilih rakyat Tiongkok (China) dan akan menumbuhkan militansi grassroot,” ucap Ace yang memimpin delegasi.

Sumber : Detik.com